Kosmetik

Indonesia mempunyai kontribusi besar dalam perkembangan industri produk halal dunia. Tidak hanya dari sektor makanan dan minuman, tetapi juga dari sektor produk kosmetik, obat, tekstil, hingga keuangan syariah.

Indonesia juga patut berbangga, karena telah menjadi salah satu negara pengekspor produk halal terbesar di dunia. Indonesia bahkan mampu menempati urutan keempat sebagai negara pengekspor produk halal di negara-negara anggota OKI, dengan market share mencapai 10,7 persen. 

Brand manager Wardah Cosmetics Shabrina Salsabila mengatakan, kontribusi Indonesia dalam perkembangan industri produk halal di dunia cukup besar. Shabrina juga mengatakan, antusiasme masyarakat terhadap produk halal semakin berkembang. Data dari International Monetary Fund (IMF) memprediksi bahwa tahun 2030, akan ada pertambahan masyarakat muslim dunia hingga 27,9 persen. Artinya, akan ada bertambah lagi kebutuhan produk halal di dunia. 

 

Selain itu, produk kosmetik halal juga menjadi salah satu konsumsi besar di dunia. “Data IMF menyebutkan kalau pengeluaran dari produk kecantikan halal sudah mencapai US$ 61 miliar per tahun. Data tersebut juga menyebutkan bahwa di 2023, akan ada pertumbuhan sembilan persen konsumsi produk halal di dunia. Artinya, akan ada US$ 90 miliar yang dihabiskan  pertahun secara global,” ujar Shabrina dalam media gathering, (Wardah Halal dari Awal) di Kembang Goela, Jakarta, Selasa 22 Januari 2019. 

 

Sementara itu di Indonesia sendiri kebutuhan kosmetik terutama kosmetik halal kian bertambah. Akan tetapi, menurut penelitian Nielsen, halal bukan menjadi faktor pertama yang harus dipertimbangkan konsumen dalam memilih produk kosmetik. 

“Banyak hal lain yang dipertimbangkan. Apakah produk baik bagi kulit, tidak bikin iritasi atau alergi, masih menjadi pertimbangan lebih tinggi dari halal,” ungkapnya. 

 

Seperti yang dikatakan oleh Direktur Research and Development PT Paragon Technology & Innovation dr. Sari Chairunnisa, SpKK bahwa kosmetik halal juga tidak hanya proses pembuatannya yang sesuai syariat, tapi juga baik untuk kesehatan kulit.

Pembuatan, pemilihan bahan, hingga pengemasan yang sesuai dengan ketentuan islam merupakan hal yang harus dilalui oleh sebuah produk halal. Seperti yang ditentukan oleh MUI sebagai lembaga yang mengeluarkan sertifikat halal, maka dari itu pemilihan untuk bahan baku produk harus sesuai syariat.

 

Pertama-tama dapat dilihat dari sumber bahan bakunya. Jika sumber bahan bakunya berasal dari binatang, maka mampu dilihat lagi apakah bahan yang diambil dari binatang tersebut sesuai atau tidak dengan hukum islam. Sumber bahan baku dari tanaman juga dapat dilihat lagi apakah bahan melalui proses lanjutan seperti penambahan larutan yang ada atau tidaknya turunan dari khamr. 

“Kalau proses packaging titik kritis halalnya adalah brush. Untuk produksi tidak serumit bahan baku, yang dilihat dari brush dan saringan apakah ada bahan yang tidak halal atau ada cross kontak atau tidak,” jelas Sari. 

Selain itu, untuk produk kosmetik MUI juga melihat apakah bahannya tembus air atau tidak. Ini untuk menentukan apakah produknya dapat dipakai untuk berwudu. 

leave a Comment