Jerawat Hormonal vs Jerawat Biasa: Bedanya Apa Sih?

Noséklopedia / 04 April 2025

by Nose Herbal Indo

Pernah nggak sih kamu merasa jerawat selalu muncul di waktu-waktu tertentu, terutama menjelang menstruasi atau saat stres melanda? Atau mungkin ada jerawat yang muncul tiba-tiba tanpa alasan yang jelas dan langsung bikin panik? Nah, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan jerawat hormonal atau jerawat biasa. Tapi, apa sebenarnya perbedaan di antara keduanya? Kenapa ada jerawat yang muncul terus di tempat yang sama, sementara ada juga yang cepat hilang tanpa bekas?


Banyak orang masih bingung membedakan jerawat hormonal dan jerawat biasa. Padahal, memahami jenis jerawat yang kamu alami bisa membantu menentukan cara perawatannya yang paling tepat. Salah langkah dalam mengatasinya justru bisa memperparah kondisi kulit, lho! Apalagi kalau kamu asal pakai produk tanpa tahu penyebabnya, bisa-bisa jerawat malah makin meradang dan susah hilang.


Supaya nggak salah langkah lagi, yuk kita kupas tuntas perbedaan jerawat hormonal dan jerawat biasa! Dengan tahu ciri-ciri dan penyebabnya, kamu bisa lebih bijak dalam merawat kulit dan menemukan solusi terbaik buat wajah bebas jerawat. Simak terus sampai habis, ya!


Mengenal Jerawat Hormonal dan Penyebabnya


Jerawat hormonal adalah jerawat yang dipicu oleh fluktuasi hormon dalam tubuh. Biasanya, jerawat jenis ini lebih sering muncul di usia remaja, tapi orang dewasa pun bisa mengalaminya, terutama wanita. Menurut Cleveland Clinic, hampir 80% orang mengalami jerawat sepanjang hidup mereka, dan sekitar 50% wanita di usia 20-an serta 25% wanita di usia 40-an masih menghadapi masalah jerawat hormonal.


Biasanya, jerawat ini sering muncul di area tertentu seperti dagu, rahang, leher, dan sekitar mulut, karena area ini memiliki lebih banyak kelenjar minyak yang sensitif terhadap perubahan hormon. Ciri khas jerawat hormonal adalah ukurannya yang cenderung lebih besar, meradang, dan kadang terasa sakit. Jerawat ini sering muncul mulai dari komedo hitam dan putih hingga kista yang meradang dan terasa nyeri. Hal yang membuat jerawat ini makin menyebalkan adalah seringnya muncul berulang di tempat yang sama, terutama saat siklus menstruasi atau ketika stres meningkat.


Bagatin, E et al (2019) menemukan bahwa jerawat hormonal tidak hanya dipengaruhi oleh hormon, tetapi juga berkaitan dengan sistem imun tubuh. Hal inilah yang membuatnya sulit diatasi. Oleh karena itu, pemahaman tentang cara kerja obat dalam mengendalikan peradangan menjadi sangat penting agar jerawat hormonal bisa diatasi dengan lebih efektif. Berikut beberapa faktor utama yang berperan dalam munculnya jerawat hormonal.


1. Fluktuasi Hormon (Estrogen & Progesteron)

Perubahan kadar estrogen dan progesteron sering kali terjadi pada wanita, terutama saat siklus menstruasi, kehamilan, atau menopause. Hormon ini bisa memengaruhi produksi minyak (sebum) di kulit. Saat produksi minyak berlebihan, pori-pori bisa tersumbat dan akhirnya muncul jerawat.


2. Lonjakan Hormon Androgen

Menurut Zouboulis, C et al (2016), peran hormon androgen dalam perkembangan jerawat acne vulgaris sudah banyak diteliti. Testosteron, Dehydroepiandrosterone Sulfate (SDHEA), dan Dihydrotestosterone (DHT) berperan dalam merangsang pertumbuhan kelenjar sebaceous dan meningkatkan produksi sebum (minyak kulit). Sebaliknya, estrogen memiliki efek yang berlawanan, yaitu menghambat sekresi androgen, mengatur gen yang berperan dalam pertumbuhan kelenjar sebaceous, serta mengurangi aktivitasnya.


Dengan kata lain, produksi minyak di kulit sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara hormon estrogen dan androgen. Jika kadar androgen lebih dominan dibanding estrogen, kelenjar sebaceous akan lebih aktif sehingga meningkatkan risiko penyumbatan pori-pori dan munculnya jerawat. Ini juga alasan kenapa remaja sering mengalami jerawat hormonal, karena di masa pubertas, kadar androgen sedang tinggi-tingginya.


3. Stres dan Kortisol

Stres ternyata punya peran besar dalam munculnya jerawat hormonal. Menurut Goulden, V., et al (1997), disaat stres tubuh memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi dan CRH (Corticotropin-Releasing Hormone), yang menyebabkan peningkatan kadar kortisol dalam tubuh. Akibatnya, jerawat pun muncul lebih sering, terutama di area dagu dan rahang. Jadi, kalau kamu lagi banyak tekanan dan tiba-tiba jerawat bermunculan, bisa jadi itu dampak dari stres.


4. Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

PCOS adalah gangguan hormon yang menyebabkan produksi androgen berlebihan. Salah satu efeknya adalah munculnya jerawat hormonal yang sulit hilang. Biasanya, wanita dengan PCOS juga mengalami gangguan siklus menstruasi dan pertumbuhan rambut berlebih di beberapa bagian tubuh.


5. Pola Makan dan Gaya Hidup

Makanan tinggi gula, produk susu, serta makanan cepat saji juga bisa memicu ketidakseimbangan hormon yang berujung pada jerawat. Selain itu, kurang tidur dan gaya hidup tidak sehat juga bisa memperburuk kondisi kulit.


Perbedaan Jerawat Hormonal dan Jerawat Biasa


Membedakan jerawat hormonal dan jerawat biasa memang bisa membingungkan karena gejalanya mirip, mulai dari komedo hitam, komedo putih, hingga jerawat yang meradang. Tapi jangan khawatir, ada beberapa perbedaan utama yang bisa membantu kamu mengenali jenis jerawat yang sedang kamu alami. Yuk, simak perbedaannya di bawah ini!


1. Respons terhadap Pengobatan

Kalau jerawat tetap muncul meskipun sudah pakai benzoyl peroxide atau salicylic acid, besar kemungkinan itu jerawat hormonal. Jerawat ini sering kali tidak mempan dengan obat jerawat yang dijual bebas dan butuh perawatan lebih lanjut dari dokter kulit. Sebaliknya, jerawat biasa biasanya bisa dikendalikan dengan produk perawatan topikal, seperti salicylic acid atau benzoyl peroxide.


2. Lokasi Jerawat

Letak jerawat juga bisa jadi petunjuk penting. Jerawat hormonal cenderung muncul di bagian bawah wajah, terutama dagu, rahang, dan leher. Sedangkan jerawat biasa bisa muncul di mana saja, mulai dari wajah, dada, hingga punggung.


3. Jenis Jerawat yang Muncul

Jerawat hormonal sering berbentuk jerawat kistik, yang besar, dalam, dan terasa sakit saat disentuh. Sebaliknya, jerawat biasa bisa berbentuk pustula atau papula, yang cenderung lebih kecil dan tidak terlalu meradang seperti jerawat hormonal.


4. Pola Kemunculan

Salah satu ciri khas jerawat hormonal adalah munculnya secara siklus, biasanya menjelang atau selama menstruasi. Selain itu, jerawat ini juga bisa semakin parah saat stres atau perubahan hormon terjadi dalam tubuh. Sementara itu, jerawat biasa tidak mengikuti pola tertentu dan bisa muncul kapan saja.


5. Faktor Kesehatan yang Mendasari

Jerawat hormonal sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS) atau ketidakseimbangan hormon. Jika mengalami jerawat yang sulit diatasi, sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk mengetahui penyebab pastinya.


Cara Atasi Jerawat Hormonal dan Jerawat Biasa


Baik jerawat yang disebabkan oleh hormon maupun faktor lainnya bisa sangat mengganggu, terutama jika muncul di saat yang tidak diharapkan. Namun, cara mengatasi jerawat hormonal dan jerawat biasa tidak bisa disamakan, karena penyebabnya berbeda. Yuk, kita bahas bagaimana cara efektif mengatasinya agar kulit tetap sehat dan bebas dari jerawat!


Cara Mengatasi Jerawat Biasa


1. Gunakan Skincare yang Sesuai

Pemilihan produk skincare yang tepat sangat berpengaruh dalam mengatasi jerawat biasa. Pilih produk yang mengandung salicylic acid, benzoyl peroxide, atau retinoid, karena bahan-bahan ini mampu membantu membersihkan pori-pori, mengurangi produksi minyak berlebih, serta mencegah pertumbuhan bakteri penyebab jerawat. Gunakan produk sesuai dengan kebutuhan kulit agar tidak menyebabkan iritasi atau efek samping lainnya.


2. Cuci Wajah Secara Rutin, Tapi Jangan Berlebihan

Membersihkan wajah dua kali sehari, yaitu di pagi dan malam hari, sudah cukup untuk menghilangkan minyak dan kotoran yang menumpuk. Mencuci wajah terlalu sering justru dapat membuat kulit menjadi kering dan memicu produksi minyak berlebih, yang malah memperburuk kondisi jerawat. Gunakan pembersih wajah yang lembut dan sesuai dengan jenis kulitmu.


3. Jangan Memencet Jerawat

Memencet jerawat mungkin terasa menggoda, tetapi ini bisa membuat kondisi semakin parah. Memencet jerawat bisa menyebabkan bakteri menyebar lebih dalam ke kulit, memperparah peradangan, dan meningkatkan risiko bekas jerawat yang sulit dihilangkan. Sebagai gantinya, gunakan spot treatmentdengan bahan seperti sulfur atau tea tree oil untuk membantu mengeringkan jerawat lebih cepat tanpa menyebabkan iritasi.


4. Gunakan Pelembap Non-Komedogenik

Banyak orang berpikir bahwa kulit berjerawat tidak membutuhkan pelembap, padahal itu salah. Kulit yang terlalu kering justru akan memproduksi lebih banyak minyak sebagai respons alami tubuh, yang akhirnya dapat menyumbat pori-pori. Pilihlah pelembap ringan dan non-komedogenik agar tetap menjaga keseimbangan kelembapan kulit tanpa menyumbat pori-pori.


5. Perhatikan Pola Makan

Makanan yang kamu konsumsi juga berpengaruh pada kondisi kulit. Hindari makanan tinggi gula, makanan berminyak, serta produk susu yang dapat memicu peradangan dan meningkatkan produksi minyak. Sebaliknya, konsumsi sayur, buah, air putih yang cukup, serta makanan kaya omega-3 untuk membantu memperbaiki kondisi kulit dari dalam.


Cara Mengatasi Jerawat Hormonal


1. Perhatikan Siklus Menstruasi dan Pola Hidup

Jika jerawat selalu muncul menjelang haid atau saat sedang stres, kemungkinan besar itu adalah jerawat hormonal. Fluktuasi hormon yang terjadi dalam tubuh dapat memicu produksi minyak berlebih yang menyumbat pori-pori. Oleh karena itu, penting untuk mengatur pola tidur yang cukup, mengelola stres, dan memperhatikan pola makan agar keseimbangan hormon tetap terjaga.


2. Gunakan Skincare yang Mendukung Keseimbangan Hormon

Untuk membantu mengatasi jerawat hormonal, pilih produk yang mengandung niacinamide, zinc, atau retinoid. Bahan-bahan ini mampu mengontrol produksi minyak, meredakan peradangan, dan memperbaiki tekstur kulit. Selain itu, gunakan masker berbahan clay atau sulfur secara rutin untuk membantu menyerap minyak berlebih dan mencegah munculnya jerawat.


3. Konsumsi Makanan yang Mendukung Kesehatan Hormon

Beberapa jenis makanan dapat membantu menjaga keseimbangan hormon secara alami. Konsumsi sayuran hijau, kacang-kacangan, makanan kaya serat, serta omega-3 yang dapat membantu mengatur kadar hormon dalam tubuh. Sebaliknya, batasi makanan tinggi gula dan makanan olahan, karena dapat meningkatkan kadar hormon androgen yang memperparah jerawat.


4. Pertimbangkan Terapi Hormon Jika Dibutuhkan

Jika jerawat hormonal sangat parah dan sulit diatasi dengan perawatan biasa, berkonsultasilah dengan dokter kulit. Dalam beberapa kasus, dokter mungkin akan menyarankan terapi hormon seperti pil KB atau obat anti-androgen yang dapat membantu mengontrol produksi minyak berlebih dan mengurangi jerawat hormonal secara signifikan.


Mengatasi jerawat dengan cara yang tepat sangat penting agar tidak memperparah kondisi kulit. Jerawat biasa lebih mudah diatasi dengan perawatan topikal dan kebersihan kulit yang baik, sementara jerawat hormonal memerlukan pendekatan yang lebih kompleks, termasuk menjaga keseimbangan hormon dan pola hidup sehat. Jika jerawat terus muncul dan sulit dikendalikan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter kulit agar mendapatkan perawatan yang sesuai.


Buat Produk Skincare untuk Atasi Jerawat? Maklon Aja di Nosè!


Dengan perawatan yang konsisten dan pola hidup yang sehat, kulit yang bersih dan sehat! Nah, kalau kamu tertarik untuk membuat produk skincare anti-acne dengan brandmu sendiri, PT Nosè Herbal Indo siap membantumu menciptakannya. Mulai dari formulasi, produksi, hingga produk jadi, kamu bisa mewujudkan produk impianmu sesuai kebutuhan konsumen.


Bersama tim RnD dan Prodev profesional, kamu bisa menciptakan produk skincare yang unik dan kaya manfaat bagi perawatan kulit berjerawat. Tunggu apalagi? Yuk, segera hubungi kontak kami untuk mulai konsultasikan produkmu sekarang!


Referensi


Bagatin, E., Freitas, T. H. P., Rivitti-Machado, M. C., Machado, M. C. R., Ribeiro, B. M., Nunes, S., & Rocha, M. A. D. D. (2019). Adult female acne: a guide to clinical practice. Anais brasileiros de dermatologia, 94(1), 62-75.

Zouboulis, C. C., Picardo, M., Ju, Q., Kurokawa, I., Törőcsik, D., Bíró, T., & Schneider, M. R. (2016). Beyond acne: Current aspects of sebaceous gland biology and function. Reviews in Endocrine and Metabolic Disorders, 17, 319-334.

Goulden, V., Clark, S. M., & Cunliffe, W. J. (1997). Post-adolescent acne: a review of clinical features. British journal of dermatology, 136(1), 66-70.

Rotterdam ESHRE/ASRM-Sponsored PCOS Consensus Workshop Group. (2004). Revised 2003 consensus on diagnostic criteria and long-term health risks related to polycystic ovary syndrome (PCOS). Human reproduction, 19(1), 41-47.


Share This Article


tiktok logo
instagram logo
Bicara dengan CS
whatsapp logo